1. PENDAMPING SUAMI
  2. PENGELOLA RUMAH TANGGA
  3. PENDIDIK ANAK & PENERUS KETURUNAN
  4. PENCARI NAFKAH TAMBAHAN
  5. WARGA MASYARAKAT

Berbicara masalah peran ibu sebagai istri pendamping suami tentunya tidak lepas dari peran ibu sebagai ibu rumah tangga. Tetapi ada baiknya dilihat beberapa peran yang pokok seorang wanita sebagai pendamping suami.

Istri sebagai teman/partner hidup

Pengertian teman di sini mempunyai arti adanya kedudukan yang sama. Istri dapat menjadi teman yang dapat diajak berdiskusi tentang masalah yang dihadapi suami. Sehingga apabila suami mempunyai masalah yang cukup berat, tapi istri mampu memberikan suatu sumbangan pemecahannya maka beban yang dirasakan suami berkurang. Disamping itu sebagai teman menandung pengertian jadi pendengar yang baik. Selama di kantor suami kadang mengalami ketidak-puasan atau perlakuan yang kurang mengenakkan, kejengkelan-kejengkelan ini dibawanya pulang. Di sini istri dapat mengurangi beban suami dengan cara mendengarkan apa yang dirasakan suami, sikap seperti ini dapat memberi ketenangan pada suami.

Istri sebagai penasehat yang bijaksana

Sebagai manusia biasa suami tidak dapat luput dari kesalahan yang kadang tidak disadarinya. Nah, di sini istri sebaiknya memberikan bimbingan agar suami dapat berjalan di jalan yang benar. Selain itu suami kadang menghadapi masalah yang pelik, nasehat istri sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalahnya.

Istri sebagai pendorong suami

Sebagai manusia, suami juga masih selalu membutuhkan kemajuan di bidang pekerjaannya. Di sini peran istri dapat memberikan dorongan atau motivasi pada suami. Suami diberi semangat agar dapat mencapai jenjang karier yang diinginkan, tentunya harus diingat keterbatasan-keterbatasannya. Artinya istri tidak boleh yang terlalu ambisi terhadap karir atau kedudukan suami, kalau suami tidak mampu jangan dipaksakan, hal ini akan menimbulkan hal-hal yang negatif.

Pada prinsipnya dari apa yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa peran istri sebagai pendamping suami dapat sebagai teman, pendorong dan penasehat yang bijaksana. Dan yang paling penting bahwa semua peran itu dapat dilakukan dengan baik apabila ada keterbukaan satu sama lain, kerjasama yang baik dan saling pengertian.

Menjadi ‘ibu rumah tangga’, buat sebagian orang adalah sesuatu yang tak bisa dibanggakan. Padahal ibu rumah tangga adalah profesi mulia yang membuat manusia berkembang dari satu generasi ke generasi dan mungkin merupakan profesi tertua di dunia.

Ibu rumah tangga adalah ladang baru bagi wanita yang ingin diakui keberadaannya tanpa harus stres berhadapan dengan lingkungan laki-laki yang kadang keras dan melelahkan. Jika beberapa wanita berlomba ingin diakui eksistensinya di bidang ekonomi, akademis, dan sebagainya, maka ibu rumah tangga adalah pilihan yang setara namun berbeda. Karena dia menawarkan kita untuk mengaktualisasikan diri secara total di sebuah dunia, yang kadang jauh dari pengakuan orang lain. Jadi, jika Anda berprofesi full time sebagai ibu, tak perlu berkecil hati dan rendah diri dengan profesi Anda yang seringkali tanpa penghargaan bahkan gaji.

Seseorang dikatakan profesional jika ahli dalam bidangnya atau mempunyai banyak pengetahuan/ketrampilan spesialis yang diperlukan di bidangnya. Dengan demikian, ibu profesional adalah ibu yang menguasai bidang “ilmu keibuannya” dan mampu mengahlikan diri dalam tugas besar dan utama yaitu mendidik generasi.

Menjalankan peran sebagai ibu profesional tentu butuh persiapan. Di bawah ini adalah tips bagi Anda yang bercita-cita menjadi ibu profesional:

Menikmati peran ibu rumah tangga.
Ini merupakan titian pertama yang dapat mengantarkan ke gerbang kehidupan yang aman, tentram, damai, dan rileks tanpa dihinggapi stres ataupun beban ketika berkarir sebagai ibu rumah tangga. Untuk menciptakan kadar profesional, menikmati peran “kerja” sangat diperlukan sehingga mengetahui dengan jelas seluk beluk, tantangan, dan reward jika menjalankan aktivitas tersebut.

Memiliki visi dan motivasi.
Menjadi ibu adalah profesi, sama halnya dengan pekerjaan di luar rumah, karena membutuhkan keahlian, pengetahuan, dan ketrampilan dalam menjalankannya. Agar semuanya berjalan secara profesional tanpa ada perasaan malu, risih ataupun jengah, seorang ibu perlu memiliki visi dan motivasi yang jelas, tidak semata-mata dijalankan karena keterpaksaan. Visi adalah wawasan jauh ke depan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu dan sumber motivasi yang menggerakan hati untuk berbuat sesuatu. Dengan adanya visi dan motivasi, maka paradigma bahwa peran ibu rumah tangga yang menjemukan akan hilang.

Mampu mengkolaborasikan leadership dan friendship secara seimbang.
Leadership atau jiwa pemimpin diperlukan oleh ibu untuk mengarahkan anggota keluarganya.Dia menempatkan diri agar dapat bermanfaat bagi anggota keluarganya serta mampu mengambil tindakan untuk kepentingan keluarga. Seorang ibu juga harus memiliki jiwa bersahabat (friendship). Di mana ia mampu menempatkan diri menjadi seorang sahabat yang penuh pengertian dengan tutur bahasa yang menyenangkan, tidak menghakimi jika mencium gelagat tidak baik dalam rumah tangganya, sehingga timbul keakraban dan keterbukaan antar anggota keluarga; serta mampu mengembangkan forum diskusi; dan komunikasi dua arah.

Memiliki pola pengaturan waktu yang baik.
Berbeda dengan pekerja kantoran yang selalu diatur waktu, maka seorang ibu rumah tangga memiliki hak untuk mengatur waktu kerjanya. Bos baginya adalah dirinya sendiri. Malas-rajin, lambat-cekatannya, tergantung bagaimana ia dapat mengatur waktunya secara profesional. Memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien akan mendatangkan hasil optimal sehingga menciptakan kepuasan yang tinggi bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan adanya kepuasan diri, akan tumbuh rasa menikmati dan mencintai peran sebagai ibu rumah tangga.

Mampu bertindak sebagai ‘sekretaris keluarga’
Dalam struktur keluarga, seorang suami sangat membutuhkan sekretaris perusahaan (istri) sebagai tangan kanannya. Untuk memenuhinya maka seorang ibu harus memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang manajerial, komunikasi, dan interpersonal skill untuk mengagendakan rencana-rencana rumah tangganya.

Pengelola keuangan yang cerdas
Hal ini dapat diketahui dari adanya buku neraca keuangan rumah tangga yang diperlukan untuk mengontrol keuangan dan mengupayakan adanya penghematan dalam mengelola aset, serta menyisakannya untuk tabungan masa depan.

Juru masak handal
‘Cinta datang dari perut’, maksudnya sebuah cinta dapat muncul dari masakan yang disuapkan ke mulut hingga perut kenyang terisi. Seorang ibu yang dapat menyajikan masakan lezat bagi keluarga tentu akan memberikan kenangan tersendiri di lidah dan membuat anggota keluarga rindu untuk selalu pulang ke rumah karena ingin mencicipinya kembali.

Pendidik yang terdidik
Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Dengan ilmu pengetahuannya, seorang ibu akan tahu bagaimana mendidik anak hingga kelak mampu mengantar anak pada kesuksesan.

Mampu mengaktualisasikan diri
Dengan adanya aktualisasi diri, diharapkan seorang ibu tidak merasa terkukung pada rutinitas. Aktualisasi dapat berupa menyalurkan hobi, melakukan pekerjaan yang disenangi, atau memiliki waktu pribadi tanpa megabaikan peran utamanya sebagai ibu.

Keluarga merupakan suatu lembaga sosial yang paling besar perannya bagi kesejahteraan sosial dan kelestarian anggota-anggotanya terutama anak-anaknya. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang terpenting bagi perkembangan dan pembentukan pribadi anak. Keluarga merupakan wadah tempat bimbingan dan latihan anak sejak kehidupan mereka yang sangat musa. Dan diharapkan dari keluargalah seseorang dapat menempuh kehidupannya dengan masak dan dewasa.

Berbicara mengenai pendidikan anak, maka yang paling besar pengaruhnya adalah ibu. Ditangan ibu keberhasilan pendidikan anak-anaknya walaupun tentunya keikut-sertaan bapak tidak dapat diabaikan begitu saja. Ibu memainkan peran yang penting di dalam mendidik anak-anaknya, terutama pada masa balita. Pendidikan di sini tidak hanya dalam pengertian yang sempit. Pendidikan dalam keluarga dapat berarti luas, yaitu pendidikan iman, moral, fisik/jasmani, intelektual, psikologis, sosial, dan pendidikan seksual.

Peranan ibu di dalam mendidik anaknya dibedakan menjadi tiga tugas penting, yaitu ibu sebagai pemuas kebutuhan anak; ibu sebagai teladan ataau “model”  peniruan anak dan ibu sebagai pemberi stimulasi bagi perkembangan anak.

Ibu sebagai sumber pemenuhan  kebutuhan anak

Fungsi ibu sebagai pemuas kebutuhan ini sangat besar artinya bagi anak, terutama pada saat anak di dalam ketergantungan total terhadap ibunya, yang akan tetap berlangsung sampai periode anak sekolah, bahkan sampai menjelang dewasa. Ibu perlu menyediakan waktu bukan saja untuk selalu bersama tetapi untuk selalu berinteraksi maupun berkomunikasi secara terbuka dengan anaknya.

Pada dasarnya kebutuhan seseorang meliputi kebutuhan fisik, psikis, sosial dan spiritual. Kebutuhan fisik merupakan kebutuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Kebutuhan psikis meliputi kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman, diterima dan dihargai. Sedang kebutuhansosial akan diperoleh anak dari kelompok di luar lingkungan keluarganya. Dalam pemenuhan kebutuhan ini, ibu hendaknya memberi kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Kebutuhan spiritual, adalah pendidikan yang menjadikan anak mengerti kewajiban kepada Allah, kepada Rasul-Nya, orang tuanya dan sesama saudaranya. Dalam pendidikan spiritual, juga mencakup mendidik anak berakhlak mulia, mengerti agama, bergaul dengan teman-temannya dan menyayangi sesama saudaranya, menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Karena memberikan pelajaran agama sejak dini merupakan kewajiban orang tua kepada anaknya dan merupakan hak untuk anak atas orang tuanya, maka jika orang tuanya tidak menjalankan kewajiban ini berarti menyia-nyiakan hak anak.

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Rasulullah saw Bersabda: “Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid). Ibu bapaknyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Seorang ibu harus memberikan atau memuaskan kebutuhan anak secara wajar, tidak berlebihan maupun tidak kurang. Pemenuhan kebutuhan anak secara berlebihan atau kurang akan menimbulkan pribadi yang kurang sehat di kemudian hari.

Dalam memenuhi kebutuhan psikis anak, seorang ibu harus mampu menciptakan situasi yang aman bagi putra-putrinya. Ibu diharapkan dapat membantu anak apabila mereka menemui kesulitan-kesulitan. Perasaan aman anak yang diperoleh dari rumah akan dibawa keluar rumah, artinya anak akan tidak mudah cemas dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul.

Seorang ibu harus mampu menciptakan hubungan atau ikatan emosional dengan anaknya. Kasih sayang yang diberikan ibu terhadap anaknya akan menimbulkan berbagai perasaan yang dapat menunjang kehidupannya dengan orang lain. Cinta kasih yang diberikan ibu pada anak akan mendasari bagaimana sikap anak terhadap orang lain. Seorang ibu yang tidak mampu memberikan cinta kasih pada anak-anaknya akan menimbulkan perasaan ditolak, perasaan ditolak ini akan berkembang menjadi perasaan dimusuhi. Anak dalam perkembangannya akan menganggap bahwa orang lainpun seperti ibu atau orang tuanya. Sehingga tanggapan anak terhadap orang lain juga akan bersifat memusuhi, menentang atau agresi.

Seorang ibu yang mau mendengarkan apa yang dikemukakan anaknya, menerima pendapatnya dan mampu menciptakan komunikasi secara terbuka dengan anak, dapat mengembangkan perasaan dihargai, diterima dan diakui keberadaanya. Untuk selanjutnya anak akan mengenal apa arti hubungan di antara mereka dan akan mewarnai hubungan anak dengan lingkungannya. Anak akan tahu bagaimanacara menghargai orang lain, tenggang rasa dan komunikasi, sehingga dalam kehidupan dewasanya dia tidak akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain.

Ibu sebagai teladan atau model bagi anaknya.

Dalam mendidik anak seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mengingat bahwa perilaku orangtua khususnya ibu akan ditiru yang kemudian akan dijadikan panduan dalam perlaku anak, maka ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seperti yang difirmankan Allah dalam:

Surat Al-Furqaan ayat 74:

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi golongan orang-orang yang bertaqwa.”

Kalau kita perhatikan naluri orang tua seperti yang Allah firmankan dalam Al Qur’an ini, maka kita harus sadar bahwa orang tua senantiasa dituntut untuk menjadi teladan yang baik di hadapan anaknya.

Sejak anak lahir dari rahim seorang ibu, maka ibulah yang banyak mewarnai dan mempengaruhi perkembangan pribadi, perilaku dan akhlaq anak. Untuk membentuk perilakua anak yang baik tidak hanya melalui bil lisan tetapi juga dengan bil hal yaitu mendidik anak lewat tingkah laku. Sejak anak lahir ia akan selalu melihat dan  mengamati gerak gerik atau tingkah laku ibunya. Dari tingkah laku ibunya itulah anak akan senantiasa melihat dan meniru yang kemudian diambil, dimiliki dan diterapkan dalam kehiduapnnya. Dalam perkembangan anak proses identifikasi sudah mulai timbul berusia 3 – 5 tahun. Pada saat ini anak cenderung menjadikan ibu yang merupakan orang yang dapat memenuhi segala kebutuhannya maupun orang yang paling dekat dengan dirinya, sebagai “model”  atau teladan bagi sikap maupun perilakunya. Anak akan mengambil, kemudian memiliki nilai-nilai, sikap maupun perilaku ibu. Dari sini jelas bahwa perkembangan kepribadian anak bermula dari keluarga, dengan cara anak mengambil nilai-nilai yang ditanamkan orang tua baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam hal ini hendaknya orang tua harus dapat menjadi contoh yang positif bagi anak-anaknya. Anak akan mengambil nilai-nilai, sikap maupun perilaku orang tua, tidak hanya apa yang secara sadar diberika pada anaknya misal melalui nasehat-nasehat, tetapi juga dari perilaku orang tua yang tidak disadari. Sering kita lihat banyak orang tua yang menasehati anaknya tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak sepenuhnya mengambil nilai, norma yang ditanamkan. Jadi, untuk melakukan peran sebagai model, maka ibu sendiri harus sudah memiliki nilai-nilai itu sebagai milik pribadinya yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Hal ini penting artinya bagi proses belajar anak-anak dalam usaha untuk menyerap apa yang ditanamkan.

Ibu sebagi pemberi stimuli bagi perkembangan anaknya

Perlu diketahui bahwa pada waktu kelahirannya, pertumbuhan berbagai organ belum sepenuhnya lengkap. Perkembangan dari organ-organ ini sangat ditentukan oleh rangsang yang diterima anak dari ibunya. Rangsangan yang diberikan oleh ibu, akan memperkaya pengalaman dan mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Bila pada bulan-bulan pertama anak kurang mendapatkan stimulasi visual maka perhatian terhadap lingkungan sekitar kurang. Stimulasi verbal dari ibu akan sangat memperkaya kemampuan bahasa anak. Kesediaan ibu untuk berbicara dengan anaknya akan mengembangkan proses bicara anak. Jadi perkembangan mental anak akan sangat ditentukan oleh seberapa rangsang yang diberikan ibu terhadap anaknya. Rangsangan dapat berupa cerita-cerita, macam-macam alat permainan yang edukatif maupun kesempatan untuk rekreasi yang dapat memperkaya pengalamannya.

Dari apa yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa kunci keberhasilan seorang anak di kehidupannya sangat bergantung pada ibu. Sikap ibu yang penuh kasih sayang, memberi kesempatan pada anak untuk memperkaya pengalaman, menerima, menghargai dan dapat menjadi teladan yang positif bagi anaknya, akan besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak. Jadi dapat dikatakan bahwa bagaimana gambaran anak akan dirinya ditentukan oleh interaksi yang dilakukan ibu dengan anak. Konsep diri anak akan dirinya positif, apabila ibu dapat menerima anak sebagaimana adanya, sehingga anak akan mengerti kekurangan maupun kelebihannya. Kemampuan seorang anak untuk mengerti kekurangan maupun kelebihannya akan merupakan dasar bagi keseimbangan mentalnya.

Seiring dengan kemajuan zaman sekarang ini, yang penuh tantangan di segala bidang kehidupan,  sepertinya tidak memungkinkan lagi bagi perempuan untuk tetap berdiam diri, berpangku tangan, duduk diam tanpa harus berbuat banyak bagi dirinya sendiri dan orang disekelilingnya, khususnya juga bagi keluarganya bagi yang sudah memilikinya. 

Perempuan tetap harus menyandang dan menjalankan kodrat yang memang sudah diterimanya sejak lahir.  Seorang perempuan, apalagi yang sudah menikah pasti akan menjadi seorang Ibu.  Yah… Ibu,  bagi anak yang akan dilahirkannya tentunya.    

Seorang perempuan akan mengalami hal yang sangat alami, yaitu mengandung selama +/- 9 bulan, mangalami berbagai perubahan secara biologis terhadap tubunhya, sampai akhirnya melahirkan.    

Semuanya tentu saja melalui sebuah proses.  Dan proses itu tentu saja tidak berjalan begitu saja.  Seorang perempuan akan mengalami hal-hal yang mungkin tidak persis sama antara perempuan satu dengan lainnya.  Mulai dari Morning Sickness (seperti muntal, mual, tidak nyaman diwaktu pagi) sampai dengan yang mungkin harus bed rest untuk beberapa saat.    

Sungguh sesuatu perjalanan dan proses yang menegangkan sekaligus menggembirakan bahkan ada pula terkadang menyedihkan. 

Tergantung dari perempuan itu sendiri dan orang-orang yang berada disekitar perempuan itu tentunya.Yah… suatu pejuangan yang harus dilalui dan harus dijalani oleh seorang perempuan untuk menjadi seorang  “Ibu” yang sesungguhnya. 

Setelah menjadi seorang ibu, ada pula sebagian perempuan harus pula mencari nafkah, untuk menghidupi keluarganya.  Dengan berbagai alasan ekonomi dan lain hal.   

Semakin tinggi tingkat kebutuhan hidup dan biasanya tingkat penghasilan yang masih belum bisa mencukupi , maka tak pelik lagi masih mengharuskan para perempuan untuk membantu para suami untuk mencari sumber kehidupan / nafkah untuk membantu menunjang penghasilan para suami. 

Bahkan  tak sedikit para perempuan mempunyai penghasilan yang melebihi penghasilan para suami.   Tentu bila hal terjadi  merupakan suatu yang sangat menggembirakan bagi keluarganya.  Karena dengan demikian  tingkat kebutuhan ekonomi mereka dapat dipenuhi atau bahkan dapat meningkatkan taraf kehidupan mereka agar menjadi lebih berkecukupan bahkan lebih makmur dari sebelumnya. Yang menikmati adalah keluarganya (Suami, anak-anak, orangtua bahkan keluarganya). 

Tapi tak sedikit pula, justru hal ini dapat yang menjadikan sesuatu yang negative, khususnya bagi para “suami” yang semestinya bertanggung jawab penuh sebagai kepala rumah tangga untuk memenuhi kewajibannya sebagai pencari Nafkah Utama untuk istri dan anak-anak mereka.  

Karena terlena dan terbisa ditopang olah para perempuan / isteri sebagai pencari nafkah (yang semestinya perempuan hanya sebagai pencari nafkah tambahan bagi keluarganya menjadi sebaliknya), hal ini bisa saja mengakibatkan hal-hal yang dapat merugikan dari beberapa sisi. 

Misalnya saja :  Timbul sikap manja bagi para suami. Suami cenderung bersikap santai dalam pencari nafkah, tidak bersemangat karena terbisa dibantu, bahkan ada yang menjadi bersikap masa bodoh terhadap apa yang semestinya menjadi tanggung jawab utama mereka.  Ini hanya contoh, tapi tak sedikit yang terjadi disekitar kita…

Sungguh sebuah contoh yang menyedihkan bagi para perempuan bukan ??? 

Tak sedikit alasan yang dapat dilontarkan oleh para suami yang memiliki sifat dan karakter seperti ini.

Mereka (para suami maksudnya) sebenarnya hanya tidak dapat memanfaatkan segenap kemampuan mereka untuk dapat lebih optimis, lebih bersemangat , lebih gigih, lebih terpacu dalam mancapai kesuksesan dalam bekerja dan berkarya. 

Mereka kurang termotivasi, kurang kreatifitas bahkan innovasi untuk merancang masa depan bagi dirinya dan keluarganya. Bahkan ada yang menyalahkan para perempuan / istri dengan mengatakan tidak dimotivasi, tidak diberi semangat, kurang komunikasi dll yang sebenarnya tidak pantas untuk dijadikan alasan.   

Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan mereka merasa ada yang menopang kekurangan atas kewajiban mereka, dsb, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat penghasilan dan kemakmuran yang dapat diperolehnya. 

Tapi jangan berkecil hati, itu hanya perumpaan beberapa contoh. Memang tak semua suami seperti ini.  

Maka bersyukurlah dan berbanggalah  kita (para perempuan yang tidak mengalami / mempunyai para suami dengan karakter atau sikap yang kurang baik seperti ini).  

Dizaman sekarang ini : Tak sedikit pula yang dapat kita lihat, dapat kita jadikan contoh, coba tengok ke kanan atau kiri  kita,  tak sedikit para perempuan yang bekerja.   

Bila anda sedikit kreatif untuk bertanya mengapa para perempuan ini tetap Terus Bekerja ? 

Anda akan sedikit terkejut dengan beratus, beribu bahkan berjuta alasan yang terlontar dari mulut para perempuan ini.  Yaitu dengan berbagai alasan ataupun embel-embel yang mungkin untuk menghibur diri perempuan itu sendiri. 

Mulai dari mengisi kekosongan waktu, mencari income / penghasilan sendiri, bahkan tak sedikit pula yang terang-terangan mengatakan kalau mereka mencari penghasilan demi untuk membantu penghasilan para suami yang memang belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang cenderung semakin hari semakin meningkat. Ada juga yang mengatakan hanya untuk enjoy, menghabiskan waktu untuk mengisi waktu luang saja. 

Tragis memang. 

Tapi itulah fakta yang terjadi di era sekarang.   

Setelah menjadi seorang ibu, menjadi sumber pencari nafkah, perempuan pun tak bisa lepaskan peran yang satu ini yaitu :  meraka juga tetap tak bisa lari dari tanggung jawab yang tak kalah penting, yaitu harus mengurus keluarganya dengan sebaik-baiknya.  

Walapun terkadang dapat diwakilkan kepada pembantu atau apapun istilahnya pada zaman sekarang ini. Tapi tetap peran ini tak kan bisa dilepaskan begitu saja. Meskipun terkadang atau hanya sebagian kecil saja yang masih melakukannya.   

Masih ingatkan kita, begitu jelas dapat kita  lihat para perempuan yang meskipun sudah bekerja seharian, dan hari telah beranjak malam, mereka masih disibukan dengan kegiatan rumah tangga, mulai dari membereskan dapur, menyiapkan makanan untuk keesokan harinya, mengurusi anak-anak, memeriksa pekerjaan dari sekolah, merapikan buku-buku anak, menyiapkan perlengkapan untuk suami, perlengkapan anak-anak dan untuk diri mereka sendiri.   

Seorang perempuan tak kan bisa melepaskannya begitu saja.  Mereka memang seakan tidak dapat berhenti sejenak.  Perempuan, kau memang mesin yang tiada henti. 

Menengok beberapa kulasan diatas, tak pelak lagi bahwa sebenarnya tak salah jika dari jaman dahulu, telah ada beberapa pepatah & kata-kata bijak untuk perempuan seperti : 

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah… 

Surga itu adanya dibawah telapak kaki ibu…. 

Muliakanlah ibumu, Sayangilah mereka,  Agungkanlah mereka… 

Dan masih banyak lagi pujian yang untukmu Perempuan, Ibu…. 

Untuk itulah hendaknya para suami, pesan yang tak kalah penting yang harus diingat dan dilakukan dalam hidupmu: Hargai mereka, Pujilah mereka,  Kasihilah mereka, Bantulah mereka, Jangan pernah menyandarkan bebanmu kepada mereka, karena mereka sesungguhnya mereka tak terlalu pantas menerima segala yang berat darimu.   

Ringankan beban mereka, buatlah mereka untuk selalu Bahagia dan selalu Tersenyum, karena sesungguhnya bila mereka (perempuan) bisa dibuat merasa “Bahagia” maka para suami akan menerima berjuta “Kebahagian “ sebagai gantinya. 

Karena Sesungguhnya Perempuan itu memang seorang yang amat Luar Biasa….      

Secara kodrati, wanita sebagai manusia tidak dapat melepaskan diri dari keterikatannya dengan manusia lain. Seperti kita ketahui bahwa pada dasarnya berhubungan dengan individu lain merupakan suatu usaha manusi untuk memenyhi kebutuhan sosialnya. Dari hubungan antar pribadi ini, tumbuhlah perasaan diterima, ditolak, dihargai-tidak dihargaidan diakui-tidak diakui. Di samping itu dari hubungan antar pribadi ini, manusia dapat lebih mengenal dirinya sendiri, banyak mendapatkan penilaian dan memberikan